Utamakan Produk Muslim

Utamakan Produk Muslim, bukan bermaksud rasis atau boikot produk non-muslim, akan tetapi kita mengutamakan produk buatan orang Islam yang ternyata jelas terang lagi bersuluh bahawa produk muslim adalah sememangnya halal.

Utamakan Produk Muslim


Halal adalah salah satu daripada hukum Islam.


Halal adalah sesuatu perkara, benda, atau perbuatan yang diizinkan dan dibolehkan. Sebagai contohnya, berjalan, tidur, meniduri isteri, makan haiwan yang telah disembelih dengan nama Allah.

Istilah ini dalam kosakata sehari-hari lebih sering digunakan untuk merujuk kepada makanan dan minuman yang diizinkan untuk dijualbeli menurut Islam.

Sedangkan dalam konteks yang lebih luas istilah halal merujuk kepada segala sesuatu yang diizinkan menurut hukum Islam (aktiviti, tingkah laku, cara berpakaian dll).

Lawan dari halal adalah haram.

Dibawah disertakan Hadis serta terjemahan dan pengertiannya sekali tentang produk Halal.

HADITS KEENAM


عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى  الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ  لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ   مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ  أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ [رواه البخاري ومسلم]

Kosa kata:


بَيِّنٌ: Jelas

(فسدت): Rusak

مشتبهات: Samar/syubhat

(أمور (أمر: Perkara-perkara

اسْتَبْرَأ: Membebaskan

اتقى: Menghindar

وقع: Terjerumus, melakukan

عِرْضه: Kehormatan (nya)

يرعى: Menggembala

الراعي: Penggembala, pemimpin

يوشك: Hampir, nyaris

الحمى: Batas, pematang.

مضغة: Segumpal daging

صلح(ت): Baik, layak

Terjemah hadits:


Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang  Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Catatan:


Hadits ini merupakan salah satu landasan pokok dalam syari’at. Abu Daud berkata: Islam itu berkisar pada empat hadits, kemudian dia menyebutkan hadits ini salah satunya.

Kandungan Hadist:



  • Termasuk sikap wara’[1] adalah meninggalkan syubhat. 
  • Banyak melakukan syubhat akan mengantarkan seseorang kepada perbuatan haram. 
  • Menjauhkan perbuatan dosa kecil karena hal tersebut dapat menyeret seseorang kepada perbuatan dosa besar.
  • Memberikan perhatian terhadap masalah hati, karena padanya terdapat kebaikan fisik. 
  • Baiknya amal perbuatan anggota badan merupakan pertanda baiknya hati. 
  • Pertanda ketakwaan seseorang jika dia meninggalkan perkara-perkara yang diperbolehkan karena khawatir akan terjerumus kepada hal-hal yang diharamkan. 
  • Menutup pintu terhadap peluang-peluang perbuatan haram serta haramnya sarana dan cara kearah sana. 
  • Hati-hati dalam masalah agama dan kehormatan serta tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan persangkaan buruk. 


Tema-tema hadits:



  1. Penetapan halal dan haram: 2 : 275, 16 : 115, 5 : 87
  2. Menghindari syubhat: 49 : 12
  3. Kedudukan hati: 26 : 89, 16 : 106, 22 : 46 
  4. Allah Maha Berkuasa (Raja): 5 : 40, 114 : 2


Nota kaki:


Wara’ adalah sikap yang timbul dari rasa takutnya seseorang terhadap  perbuatan haram. 


Comments


Recent Posts Widget



Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Followers